Memahami Purple Crying: Fase Normal yang Sering Bikin Orang Tua Cemas
Apa Itu Purple Crying dan Mengapa Terjadi pada Bayi?
Purple crying adalah fase normal dalam perkembangan bayi, ditandai dengan tangisan hebat dan sulit ditenangkan. Fase ini kerap terjadi pada usia 2 minggu hingga 4 bulan. Istilah ini dicetuskan oleh National Center on Shaken Baby Syndrome sebagai akronim dari:
- P (Peak of crying): Tangisan mencapai puncak saat usia 6–8 minggu.
- U (Unexpected): Tangisan datang dan pergi tiba-tiba, tanpa pemicu jelas.
- R (Resists soothing): Bayi tidak kunjung tenang meski telah dihibur.
- P (Pain-like face): Wajah bayi tampak seperti kesakitan, meski tidak sakit.
- L (Long lasting): Tangisan bisa berlangsung dari 30 menit hingga beberapa jam.
- E (Evening): Puncak tangisan sering terjadi di sore atau malam hari.
Fase ini bisa membuat orang tua panik karena bayi terlihat menderita, meski sebenarnya tidak sedang mengalami gangguan fisik serius.
Baca Juga : “Putus Rantai Kekerasan Orang Tua ke Anak Mulai Sekarang“
Kenapa Purple Crying Tidak Perlu Dikhawatirkan Secara Medis?
Meskipun menimbulkan stres, purple crying tidak berbahaya dan bukan tanda penyakit. Ini adalah bagian dari proses pematangan sistem saraf bayi. Seiring waktu, frekuensi dan durasi tangisan menurun, terutama setelah bayi mulai bisa berkomunikasi.
Banyak studi menyebut purple crying adalah bentuk ekspresi emosi awal. Dr. Ronald Barr, ahli pediatri dari Kanada, menjelaskan bahwa menangis adalah cara bayi menyalurkan ketidaknyamanan meski tidak selalu terkait rasa sakit.
Langkah Efektif Menenangkan Bayi Saat Mengalami Purple Crying
Kontak Kulit (Skin to Skin) Beri Rasa Aman pada Bayi
Kontak langsung antara kulit ibu dan bayi memberi efek menenangkan. Letakkan bayi yang hanya mengenakan popok di dada ibu yang terbuka. Kontak ini membantu bayi merasa hangat, aman, dan lebih cepat tenang.
Studi menunjukkan bahwa skin-to-skin contact bisa menstabilkan denyut jantung bayi dan menurunkan kadar kortisol.
Gendong dan Ayun Bayi dengan Ritme Lembut
Menggendong bayi dan mengayunkannya perlahan sambil bersenandung dapat meredakan tangisannya. Suara seperti white noise (bunyi kipas atau suara alam) juga efektif untuk menenangkan sistem saraf bayi.
Penting untuk memastikan gerakan ayunan tidak terlalu kencang agar aman bagi leher dan kepala bayi.
Ajak Bayi ke Luar untuk Mengubah Suasana
Mengajak bayi ke luar rumah bisa menjadi distraksi efektif. Cahaya alami dan udara segar dapat membantu mengalihkan fokusnya dari perasaan tidak nyaman.
Berjalan santai di halaman atau sekitar rumah cukup membantu meredam tangisan bayi yang terlalu intens.
Mandi Air Hangat untuk Relaksasi Bayi
Air hangat bisa memberikan efek menenangkan pada otot dan sistem saraf bayi. Saat mandi, pastikan suhu air antara 36–38°C untuk kenyamanan bayi.
Percikan air dan suasana mandi bisa membantu bayi lebih rileks dan menghentikan tangisannya sementara waktu.
Bedong Bayi dengan Lembut Tanpa Membatasi Gerakan
Membedong dengan kain lembut menciptakan rasa nyaman seperti dalam kandungan. Namun, hindari membedong terlalu ketat agar sirkulasi tetap lancar.
Cara ini cocok digunakan saat bayi menangis di malam hari, karena memberikan kehangatan emosional.
Cek Kondisi Fisik Bayi Secara Menyeluruh
Tangisan bisa berasal dari popok yang penuh, suhu tubuh yang tidak normal, atau rasa lapar. Pastikan juga tidak ada ruam atau iritasi yang membuat bayi tak nyaman.
Jika semua kebutuhan dasar telah dipenuhi dan bayi tetap menangis, bisa jadi ini bagian dari purple crying.
Peran Orang Tua dalam Menghadapi Purple Crying
Jaga Kesehatan Mental Orang Tua untuk Tetap Tenang
Menangani purple crying memerlukan kesabaran. Rasa frustrasi sangat mungkin muncul. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk beristirahat dan bergantian merawat bayi.
Jika merasa kewalahan, tidak ada salahnya meminta bantuan keluarga atau tenaga kesehatan.
Edukasi Keluarga Tentang Purple Crying untuk Hindari Tindakan Berbahaya
Beberapa kasus shaken baby syndrome (SBS) terjadi karena orang tua atau pengasuh mengguncang bayi saat tidak bisa menghentikan tangisannya. Ini sangat berbahaya dan dapat merusak otak bayi.
Dengan memahami bahwa purple crying adalah hal normal, tindakan panik atau berisiko bisa dicegah.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Purple crying tidak disertai gejala lain seperti demam, muntah, diare, atau pembengkakan tubuh. Jika bayi menangis disertai gejala tersebut, segera periksakan ke dokter.
Dokter anak bisa melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan tidak ada infeksi atau masalah kesehatan lainnya.
Kesimpulan dan Panduan ke Depan
Purple crying adalah fase sementara yang merupakan bagian alami dari tumbuh kembang bayi. Memahami artinya dan cara menanganinya membantu orang tua menghindari stres berlebihan.
Kunci utamanya adalah kesabaran, perhatian penuh, dan dukungan emosional antar pasangan atau keluarga. Dengan cara ini, fase purple crying bisa dilalui dengan lebih ringan dan tetap membentuk hubungan kuat antara bayi dan orang tua.
“Menangis bukanlah tanda kelemahan bayi, melainkan bagian dari pembelajaran emosionalnya,” ujar Dr. Barr, pelopor konsep purple crying.
Baca Juga : “Mengenal Purple Crying pada Bayi serta Cara Mengatasinya“
