Peran Ayah Semakin Diperkuat Lewat Gerakan Gemar dari BKKBN
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (KemenDukBangga) bersama BKKBN secara resmi meluncurkan Gerakan Ayah Mengambil Raport ke Sekolah (Gemar). Inisiatif ini bertujuan mendorong partisipasi aktif para ayah dalam pendidikan anak, dimulai dari momen sederhana: hadir saat pembagian raport.
Dalam Surat Edaran Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025, ditegaskan bahwa pelibatan ayah dalam kegiatan sekolah akan memperkuat ikatan emosional antara anak dan orangtua. Tidak hanya menjadi pengasuh pasif, peran ayah kini diarahkan sebagai pendidik aktif yang memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan akademik anak.
Baca Juga : “Panduan Menanam Cabai di Pot, Efektif dan Anti Hama“
Dukungan Emosional Ayah Berpengaruh Langsung pada Mental Anak
Ketika seorang ayah hadir dalam aktivitas pendidikan anak, hal ini membentuk kedekatan emosional yang penting. Anak-anak yang memiliki keterikatan emosional kuat dengan ayahnya cenderung tumbuh lebih percaya diri, merasa aman, dan lebih siap menghadapi proses pembelajaran di sekolah.
Kondisi psikologis ini menjadi pondasi penting dalam proses pendidikan. Anak yang merasa diperhatikan oleh kedua orangtuanya akan menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, kehadiran ayah pada saat pengambilan raport bukan sekadar simbolik, tetapi berdampak langsung pada psikologis anak.
Penelitian 2023: Ayah Aktif Dorong Anak Lebih Berprestasi
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2023 dan dikutip dari The Guardian menegaskan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh yang unik dan signifikan terhadap hasil pendidikan anak. Studi ini melibatkan lebih dari 5.000 rumah tangga di Inggris dengan anak-anak yang lahir antara tahun 2000 hingga 2002.
Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa anak-anak dengan keterlibatan ayah yang tinggi cenderung memiliki nilai akademik lebih baik, bahkan setelah mempertimbangkan faktor ekonomi, gender, dan latar belakang etnis.
Menurut data, kehadiran ayah dalam kehidupan pendidikan anak, seperti membacakan buku, menggambar bersama, atau bermain secara terarah, memberikan dampak nyata terhadap perkembangan kognitif dan kemampuan bahasa.
Aktivitas Sederhana, Dampak Pendidikan Sangat Signifikan
Aktivitas ayah bersama anak tak harus kompleks atau memakan waktu lama. Studi yang sama menunjukkan bahwa hanya dengan 10 menit interaksi bermakna setiap hari—misalnya membaca buku atau bercerita—dampak terhadap hasil belajar anak dapat terlihat signifikan dalam waktu singkat.
Kegiatan seperti ini memberi stimulasi otak dan memperkuat hubungan emosional yang mendorong kesiapan anak dalam belajar. Bahkan, keaktifan ayah saat anak berusia lima tahun terbukti meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan asesmen setara anak usia tujuh tahun.
Peran Ayah dan Ibu: Sama Penting, Tapi Beda Fokus
Penelitian tersebut juga menggarisbawahi perbedaan mendasar antara peran ayah dan ibu. Peran ibu diketahui lebih banyak berkontribusi pada pembentukan perilaku sosial dan emosional anak. Sebaliknya, kontribusi ayah lebih terlihat pada capaian akademik dan prestasi belajar anak.
Keseimbangan antara kedua peran ini menjadi kunci dalam membangun karakter dan kecerdasan anak secara holistik. Kolaborasi dalam pengasuhan memberikan hasil yang lebih utuh dibandingkan pengasuhan yang hanya didominasi oleh salah satu pihak.
Rekomendasi Para Ahli untuk Ayah dan Sekolah
Menurut Helen Norman, peneliti dari University of Leeds, Inggris, keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih tergolong rendah karena budaya pengasuhan sering menempatkan ibu sebagai figur utama. Padahal, menurutnya, berbagi peran akan memberikan hasil pendidikan yang lebih optimal.
Sementara itu, Helen Dodd, profesor psikologi dari Exeter Medical School, menyatakan bahwa keterlibatan ayah dan ibu dalam kegiatan bersama anak akan lebih efektif bila dilakukan secara kolektif, bukan terpisah. Kehadiran bersama menciptakan suasana aman dan mendukung bagi perkembangan mental dan akademik anak.
Selain itu, para ahli juga merekomendasikan agar sekolah aktif memperbarui data kontak orangtua secara berkala dan menyusun strategi untuk melibatkan ayah dalam kegiatan sekolah. Keterlibatan ini tidak hanya menciptakan suasana kekeluargaan yang positif, tetapi juga menjadi bagian dari kebijakan pendidikan yang berorientasi pada hasil jangka panjang.
Pentingnya Menata Kebijakan Pendidikan yang Responsif Gender
Inisiatif Gemar membuka peluang baru bagi lembaga pendidikan untuk mendesain kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap keterlibatan kedua orangtua. Kebijakan semacam ini bukan hanya soal kesetaraan, tetapi lebih pada efektivitas pendekatan pendidikan.
Keterlibatan ayah dalam dunia pendidikan sering kali terbentur oleh jam kerja atau norma sosial yang membatasi. Oleh karena itu, dibutuhkan infrastruktur kebijakan dari sekolah yang memungkinkan partisipasi ayah—misalnya dengan menyediakan jam fleksibel untuk konsultasi akademik atau pengambilan raport.
Gerakan Gemar Bisa Tekan Risiko Putus Sekolah
Kehadiran figur ayah dalam kegiatan sekolah juga diyakini dapat mencegah risiko anak putus sekolah atau mengalami penurunan motivasi belajar. Anak-anak dari keluarga dengan keterlibatan ayah tinggi cenderung memiliki tujuan belajar yang lebih jelas dan lebih disiplin dalam mengikuti pendidikan.
Gerakan Gemar bisa menjadi langkah awal dalam membentuk budaya pendidikan berbasis keluarga. Jika gerakan ini dijalankan secara konsisten dan melibatkan komunitas sekolah, maka Indonesia bisa melihat peningkatan kualitas pendidikan dari tingkat dasar secara menyeluruh.
Studi Global: Efek Keterlibatan Ayah Tak Bergantung pada Faktor Eksternal
Hal menarik dari studi 2023 ini adalah temuan bahwa pengaruh positif dari peran ayah terhadap prestasi anak tidak tergantung pada pendapatan rumah tangga, jenis kelamin anak, ataupun etnis. Artinya, semua ayah dari latar belakang apa pun memiliki potensi yang sama besar untuk berkontribusi terhadap pendidikan anak.
Namun demikian, studi juga mencatat bahwa kemiskinan tetap menjadi faktor risiko signifikan yang menghambat proses pendidikan. Oleh karena itu, pelibatan ayah tetap perlu didukung dengan kebijakan afirmatif bagi keluarga prasejahtera agar anak-anak dari semua latar belakang bisa mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Kesimpulan: Gerakan Kecil, Dampak Besar bagi Masa Depan Anak
Gerakan Ayah Mengambil Raport bukan sekadar ajakan hadir di sekolah. Ini adalah gerakan perubahan cara pandang terhadap peran ayah dalam pendidikan. Dengan tindakan sederhana namun konsisten, seperti membacakan cerita atau menghadiri pembagian raport, seorang ayah bisa membuka jalan bagi anak menuju masa depan yang lebih baik.
Dukungan keluarga, terutama dari figur ayah, terbukti menjadi salah satu penentu utama kesuksesan akademik anak. Maka dari itu, melalui Gemar dan edukasi berkelanjutan, masyarakat dan lembaga pendidikan diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih suportif dan setara.
Baca Juga : “Perkuat Kedekatan Orang Tua dan Anak, Gerakan Ayah Ambil Rapor Digalakkan di Gresik“











