Kehamilan adalah masa yang penuh harapan sekaligus tantangan, namun tidak jarang diiringi oleh beragam mitos yang beredar di masyarakat. Mitos-mitos ini, meski sering dianggap sepele, dapat berdampak pada kondisi psikologis ibu hamil. Banyak ibu yang merasa cemas, ragu, bahkan stres karena informasi yang tidak berdasar. Jika tidak ditangani, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik selama kehamilan.
Mitos Bisa Mengganggu Kesehatan Mental Bumil
Menurut dr. Julita D.L Nainggolan, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Siloam Hospital Lippo Village, mitos kehamilan merupakan salah satu penyebab keresahan utama di kalangan ibu hamil. Dalam praktiknya, ia sering menerima pertanyaan dari pasien mengenai hal-hal yang belum terbukti kebenarannya secara medis.
“Banyak mitos yang justru membuat ibu menjadi takut, padahal tidak ada dasar ilmiahnya,” jelas Julita dalam talkshow Menuju Hari Ibu: Persalinan Nyaman di Setiap Langkah, Kamis, 11 Desember 2025.
Baca Juga : “Terapkan 9 Kiat Ini agar Anak-anak Tumbuh Cinta Membaca Buku“
Pemeriksaan USG: Aman dan Penting untuk Pantau Perkembangan Janin
Salah satu mitos paling umum yang beredar adalah kekhawatiran terhadap efek samping pemeriksaan USG (ultrasonografi). Banyak yang percaya bahwa terlalu sering USG bisa menyebabkan gangguan pada janin karena paparan radiasi.
Tidak Ada Radiasi Berbahaya dalam Pemeriksaan USG
dr. Julita menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. USG tidak memanfaatkan radiasi X-ray, melainkan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang aman untuk janin maupun ibu. Pemeriksaan ini justru sangat penting untuk memantau kondisi kehamilan sejak dini.
“USG sangat aman dan bisa dilakukan kapan saja sesuai indikasi medis,” jelas Julita.
Pemeriksaan ini tidak hanya bertujuan melihat kondisi janin, tetapi juga mendeteksi risiko kehamilan seperti kehamilan kosong atau mola hidatidosa (hamil anggur) sejak trimester pertama.
Jadwal Pemeriksaan Rutin Berdasarkan Usia Kehamilan
Frekuensi kontrol kehamilan harus meningkat sesuai dengan pertambahan usia janin. dr. Julita menjelaskan bahwa setelah usia kandungan 28 minggu, kontrol dilakukan dua minggu sekali. Memasuki usia 36 minggu, kontrol dilakukan setiap minggu.
Hal ini penting karena pada trimester akhir, fungsi plasenta sebagai penyalur nutrisi dan air ketuban bisa menurun.
“Kita harus pantau agar suplai oksigen dan nutrisi ke janin tetap optimal,” ujarnya.
Makan Durian Saat Hamil: Mitos atau Fakta?
Di antara banyak mitos yang beredar, larangan makan durian saat hamil termasuk yang paling sering dipercaya masyarakat. Durian kerap dianggap bisa memicu kontraksi hingga menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.
Durian Tidak Sebabkan Kontraksi, Tapi Perlu Dibatasi
dr. Herawati Sri Ratna Dewi, SpOG, membantah mitos tersebut. Menurutnya, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan durian atau nanas bisa memicu kontraksi pada kehamilan normal.
“Durian boleh dikonsumsi ibu hamil, asalkan tidak berlebihan,” tegasnya.
Namun, karena durian memiliki indeks glikemik tinggi, ibu dengan riwayat diabetes gestasional harus berhati-hati. Konsumsi berlebihan bisa memicu lonjakan gula darah yang berbahaya.
Pentingnya Pola Makan Seimbang Selama Kehamilan
Herawati menekankan pentingnya pola makan bergizi dan seimbang. Ibu hamil sebaiknya tidak hanya fokus pada makanan yang “boleh atau tidak boleh” dimakan, tetapi pada kualitas nutrisi yang masuk ke tubuh.
“Gizi tidak seimbang justru bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah,” jelasnya.
Inovasi Teknologi untuk Kehamilan: Layanan Konsultasi 24 Jam “Sahabat Ibu”
Menjawab tantangan informasi kehamilan yang sering simpang siur, Siloam Hospitals meluncurkan layanan konsultasi Sahabat Ibu, yang tersedia 24 jam dan didukung oleh kecerdasan buatan (AI). Layanan ini bisa diakses oleh siapa saja melalui WhatsApp, tanpa harus menjadi pasien Siloam.
AI dan Tenaga Medis Bersinergi untuk Edukasi yang Lebih Baik
Yanti Mayasari, Clinical Strategy and Innovation Director of Siloam Hospitals, menjelaskan bahwa layanan ini dibangun untuk menjembatani kebutuhan informasi yang aman dan akurat bagi para ibu hamil, khususnya di daerah dengan akses terbatas terhadap dokter kandungan.
“Kami ingin semua ibu, di mana pun berada, bisa memperoleh edukasi yang sama,” ujarnya.
Selain AI, layanan ini juga melibatkan tim bidan dan dokter kandungan untuk menjawab pertanyaan spesifik dan memberikan edukasi berbasis usia kehamilan.
Fitur Edukasi Berdasarkan Perkembangan Janin
Salah satu fitur unggulan Sahabat Ibu adalah pengiriman materi edukasi berkala yang disesuaikan dengan usia kehamilan. Setiap dua minggu, ibu akan menerima informasi mengenai kondisi janin, rekomendasi suplemen, larangan tertentu, serta pengingat jadwal kontrol.
“Kalau ibu tahu apa yang harus dilakukan saat tekanan darah tinggi atau gula darah naik, komplikasi bisa dicegah,” tambah Yanti.
Kesimpulan: Edukasi dan Akses Informasi Adalah Kunci Kehamilan Sehat
Beragam mitos kehamilan yang beredar di masyarakat dapat menyebabkan kebingungan bahkan kecemasan berlebih pada ibu hamil. Penting untuk memilah informasi berdasarkan bukti ilmiah dari sumber terpercaya, seperti dokter spesialis dan fasilitas layanan kesehatan.
Pemeriksaan USG terbukti aman dan esensial untuk memantau perkembangan janin. Konsumsi makanan seperti durian pun tidak dilarang, selama tetap dalam batas wajar dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan ibu.
Peluncuran layanan “Sahabat Ibu” oleh Siloam Hospitals menjadi contoh konkret bagaimana teknologi dan tenaga medis dapat bersinergi untuk memberikan perlindungan optimal kepada ibu hamil. Edukasi yang personal dan mudah diakses akan sangat membantu mewujudkan kehamilan yang aman dan nyaman bagi semua kalangan.
Baca Juga : “5 Mitos dan fakta seputar kehamilan“











